Informasi SMW Batam

Kamis, 21 Maret 2019

Pancasila Buddhis




Pengantar

Kehidupan memiliki ketertibannya, termasuk kehidupan manusia. Dalam mencapai kebahagiaan dirinya dan keharmonisannya dengan sesamanya, manusia melandasi hidupnya dengan sila. Sila merupakan aturan-aturan moralitas yang wajib dilaksanakan oleh manusia. Dikatakan baik atau manusia susila, karena mencerminkan hakikatnya sebagai makhluk yang luhur dan bahkan kelahiran manusia ditentukan oleh sejauh mana dia tidak melanggar sila.

Mari Pahamilah Pengertian Sila!
Ingat Sila menunjukkan keunggulan kualitas kita sebagai manusia!

1.   Apakah pengertian sila itu ?
Pengertian sila ada dua macam pengertian sila, yaitu:
1)   Kehendak atau sikap batin yang tercetus sebagai ucapan benar dan perbuatan benar.
2)   Cara untuk mengendalikan diri dari segala bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik atau merupakan usaha untuk membebaskan diri dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.
3)    Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ETHOS yang artinya kebiasaan atau adat.
4)   Oleh karena itu etika sering dijelaskan sebagai moral. Dalam pandangan Buddhis sila memiliki banyak arti antara lain: norma (kaidah), peraturan, perintah, sikap, keadaan, perilaku, sopan santun, dan sebagainya
5)   Sila pertama kali diajarkan Buddha kepada lima orang pertapa ketika menyampaikan khotbah pertama di Taman Rusa Isipatana.
6)   Dalam khotbah pertama  tersebut dijelaskan tentang jalan menuju lenyapnya dukkha yang dinamakan jalan tengah ( Hasta Ariya Magga )
7)   Dalam jalan tengah di bagi menjadi 3 kelompok yaitu terdiri dari panna, sila , Samadhi. Di dalam kelompok sila terdiri dari Ucapan benar, Perbuatan benar dan Mata Pencaharian benar. Sila merupakan dasar yang paling utama dalam pengamalan kehidupan kerohanian umat Buddha.
8)   Dengan memiliki sila merupakan langkah awal yang sangat penting untuk mencapai kehidupan yang luhur. Hal tersebut telah disampaikan dalam Kitab Samyutta Nikaya V, 143, antara lain : “ Apakah permulaan dari batin yang luhur ? Sila yang sempurna “

  
2.   CIRI, FUNGSI, WUJUD DAN SEBAB TERDEKAT DARI SILA

1. Ciri Sila (Lakkhana) adalah ketertiban dan ketenangan
2. Fungsi (rasa) adalah untuk menhancurkan yang salah (dussiliya) dan menjaga agar orang tetap tidak bersalah (ancajja)
3. Wujud sila (paccupatthana) adalah kesucian (soceyya)
4. Sebab terdekat adalah Hiri dan Ottapa, hiri adalah perasaan malu untuk berbuat jahat atau kesalahan, ottapa ada perasaan takut akan akibat dari perbuatan jahat. Hiri dan Ottapa disebut Lokapaladhamma atau pelindung dunia.

3.   PEMBAGIAN SILA ada 4
1. Sila menurut jenisnya terdiri dari 2 macam, yaitu :
a. Pakati Sila artinya sila alamiah(sila yang tidak dibuat oleh manusia). Contohnya hukum tertib kosmis (utu, bija, kamma, dhamma, citta niyama)
b. Pannati Sila adalah sila yang dibuat oleh manusia berdasarkan kesepakatan atas dasar tujuan tertentu. Contoh : peraturan kebhikkhuan, adat istiadat, peraturan Negara, dan lain-lain

2. Sila menurut pelaksanaannya terdiri dari 3 macam, yaitu :
a. Sikkhapada sila yaitu melakukan latihan pengendalian diri
b. Carita sila yaitu sila dalam aspek positif (mengembangkan 10 perbuatan baik)
c. Varita sila yaitu sila dalam aspek negatif (10 karma buruk)

3. Sila menurut jumlah latihannya terdiri dari 3 macam, yaitu :
a. Cula Sila adalah cara pengendalian diri dari segala perbuatan dan ucapan yang tidak baik. Disebut Cula Sila karena jumlah sila tersebut paling sedikit yaitu lima sila yang dilaksanakan oleh umat biasa atau upasaka dan upasika.
b. Majjhima Sila adalah sila yang sedang dalam jumlah peraturun. Sila ini terdiri dari sepuluh latihan (Dasasila) dilaksanakan oleh samanera.
c. Maha Sila adalah sila yang banyak/berat dalam jumlah peraturan. Sila ini disebut Patimokkhasila dilaksanakan oleh para bhikkhu berjumlah 227 latihan dan bhikkhuni berjumlah 311 latihan.

4. Sila menurut jenis orang yang melaksanakan terdiri dari 3 macam, yaitu :
a. Sila upasaka-upasika adalah pancasila Buddhis. Bila kelima sila ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka akan memiliki 5 macam kekayaan, al:
• Keyakinan terhadap Triratna dan diri sendiri
• Kemurnian sila dan pelaksanaannya
• Keyakinan terhadap hukum karma
• Mencari kebaikan di dalam dhamma
• Berbuat baik sesuai dengan dhamma

b. Sila bagi Samanera-samaneri adalah majjhima sila (sila menengah). Untuk aliran Theravada melaksanakan 10 sila dan 75 sekhiya. Untuk aliran Mahayana melaksanakan 10 sila dan 100 siksakaranya.

c. Sila para bhikkhu dan bhikkhuni disebut patimokkhasila atau panita sila (sila yang tinggi). Sila bagi bhikkhu Theravada berjumlah 227 sila, bhikkhuni 311 sila. Khusus sila bagi para bhikkhuni Theravada telah dihapuskan sejak tahun 1257 m karena dalam aliran Theravada tidak ada lagi sangha bhikkhuni. Sila bagi bhikkhu Mahayana berjumlah 250 sila dan bhikkhuni 348 sila.

4.   MANFAAT PELAKSANAAN SILA
1. Manfaat sila bagi perumah tangga sesuai dengan Kitab Maha Parinibbana Sutta adalah :
• Penyebab seseorang memiliki banyak harta kekayaan
• Nama dan kemasyurannya akan bertambah luas
• Menghadiri pertemuan tanpa ketakutan dan keragu-raguan
• Sewaktu akan meninggal hatinya tenang
• Penyebab terlahir di alam surga
2. Tujuan tertinggi melaksanakan sila adalah untuk mencapai Nibbana. Nibbana tidak sama dengan surga. Bedanya: Surga adalah tempat berdiamnya makhluk yang menerima akibat perbuatan baiknya.
3. Nibbana adalah keadaan dimana semua makhluk terbebas dari tanha dan kilesa.
4. Hubungan dhamma dan vinaya sangat erat karena, mengajar dhamma tanpa vinaya sama artinya mengajarkan jalan tanpa menunjukkan bagaimana cara memulai dan menempuhnya.
5. Pahala melaksanakan sila :
• Bebas dari penyesalan
• Bebas dari penyesalan menimbulkan kebahagiaan
• Kegembiraan dapat menimbulkan kegiuran (piti)
• Kegiuran dapat menimbulkan ketenangan (passadi)
• Ketenangan akan menimbulkan pemusatan pikiran (ekaggata)
• Pemusatan akan menimbulkan pengetahuan mengenai kesunyataan (anulomanana)
• Pengetahuan mengenai kesunyataan akan mendorong untuk mencari kebenaran (muncitukannyata nana)
• Usaha untuk mencari kebebasan akan mendapatkan pengetahuan tentang kebebasan (nibbana nana)
• Pengetahuan tentang kebebasan akan membawa orang kepada kebebasan (nibbana).

5.   Apakah pancasila buddhis itu ?
Pancasila adalah lima latihan moral. Pancasila Buddhis merupakan peraturan yang hendaknya dilatih dan dilaksanakan oleh umat Buddha. Umat Buddha setiap kebaktian pasti membaca paritta Pancasila.Jika kebaktian dihadiri anggota Sangha, umat meminta tuntunan Tisarana dan Pancasila Buddhis kepada anggota Sangha. Umat Buddha yang meminta untuk divisudhi upasaka atau upasika pasti meminta tuntunan Pancasila Buddhis secara khusus kepada Bhikkhu Sangha. Umat Buddha yang ingin divisudhi upasaka atau upasika ini berikrar untuk melaksanakan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan bahwa Pancasila Buddhis merupakan pegangan atau pedoman hidup bagi umat Buddha terutama bagi upasaka dan upasika.

6.   Sebutkan isi pancasila buddhis !

Pancasila Buddhis
1. Panatipata veramani sikkhapadang samadiyami
Aku bertekad melatih menahan diri dari membunuh makhluk hidup.
2. Adinadana veramani sikkhapadang samadiyami
Aku bertekad melatih menahan diri dari mengambil barang yang tak diberikan.
3. Kamesumiccharacara veramani sikkhapadang samadiyami
Aku bertekad melatih menahan diri dari perbuatan asusila.
4. Musavada veramani sikkhapadang samadiyami
Aku bertekad melatih menahan diri dari bicara yang tidak benar.
5. Surameraya majjapamadattana veramani sikkhapadang samadiyami
Aku bertekad melatih menahan diri tidak makan makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan.




Penjelasan Pancasila Buddhis

1. Sila Pertama: menahan diri dari membunuh makhluk hidup.
a. Ada lima faktor untuk dapat disebut membunuh
1) Ada makhluk hidup
2) Mengetahui bahwa makhluk itu masih hidup
3) Berpikir untuk membunuhnya
4) Berusaha untuk membunuhnya
5) Makhluk itu mati sebagai akibat dari usaha tersebut

b. Objek dari pelanggaran Sila Pertama
1) Manusia
2) Binatang, yaitu binatang berguna dan tidak berguna.

c. Maksud atau motif dari pelanggaran Sila Pertama
1) Direncanakan atau sengaja
2) Tidak dikehendaki dengan dorongan sesaat atau mendadak. Misalnya, mempertahankan diri dan kecelakaan.

d. Usaha dari pelanggaran Sila Pertama
1) Dikerjakan langsung
2) Dengan tak langsung

e. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Pertama yang harus juga kita hindari
1) Membunuh manusia dan hewan
2) Menyiksa manusia dan hewan
3) Menyakiti jasmani manusia dan hewan

f. Akibat dari melanggar Sila Pertama
1) Lahir kembali dengan keadaan cacat
2) Mempunyai wajah yang buruk
3) Mempunyai perawakan yang jelek
4) Berbadan lemah, penyakitan
5) Tidak begitu cerdas
6) Selalu khawatir/cemas, takut
7) Dimusuhi dan dibenci orang banyak, tidak mempunyai pengikut
8) Terpisah dari orang yang dicintai
9) Berumur pendek
10) Mati dibunuh orang lain



2. Sila Kedua: menahan diri dari mengambil sesuatu yang tidak diberikan
a. Ada lima faktor untuk dapat disebut mencuri
1) Ada sesuatu/barang/benda milik pihak lain
2) Mengetahui bahwa barang itu ada pemiliknya
3) Berpikir untuk mencurinya
4) Berusaha untuk mencurinya
5) Berhasil mengambil barang itu melalui usaha tersebut

b. Usaha dari pelanggaran Sila Kedua
1) Pencurian secara langsung
a) Mencuri g) pemalsuan
b) Merampas h) berbohong (memungkiri harta benda yang dititipkan)
c) Memeras i) mencopet
d) Merampok j) menukar barang
e) Gugatan palsu k) menyelundup dan menghindari pajak
f) Penipuan l) penggelapan
2) Pencurian tak langsung
a) Berlaku sebagai kaki tangan (tukang tadah)
b) Merayu untuk menipu
c) Menerima suapan (pungli)

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila kedua yang harus juga kita hindari

1) Penghancuran barang orang lain dengan sengaja untuk balas dendam
2) Mempergunakan barang dengan sewenang-wenang

d. Akibat dari melanggar Sila Kedua
1) Tidak mempunyai harta benda dan kekayaan
2) Terlahir dalam keadaan melarat atau miskin
3) Menderita kelaparan
4) Tidak berhasil memperoleh apa yang diinginkan dan didambakan
5) Menderita kebangkrutan atau kerugian dalam usaha dagang
6) Sering ditipu atau diperdaya
7) Mengalami kehancuran karena bencana atau malapetaka

e. Kebahagiaan yang dimiliki oleh orang yang mencari nafkah secara benar
1) Rasa bangga memiliki barang (harta) secara sah
2) Bebas dari beban yang membuat dia harus hidup bersembunyi
3) Saat mempergunakan hartanya itu tidak tertekan batinnya
4) Hal itu memperkuat dia untuk tidak jatuh kedalam cara-cara hidup yang jahat lainnya.



3. Sila ketiga: menahan diri dari perbuatan asusila.
a. Ada empat faktor untuk dapat disebut berzinah
1) Ada objek yang tidak patut digauli
2) Mempunyai pikiran untuk menyetubuhi objek tersebut
3) Berusaha menyetubuhi
4) Berhasil menyetubuhi, dalam arti berhasil memasukkan alat kemaluannya ke dalam salah satu dari tiga lubang (mulut, anus, atau liang peranakan) walaupun hanya sedalam biji wijen

b. Objek dari pelanggaran Sila Ketiga
1) Objek yang menyebabkan pelanggaran sila Ketiga oleh laki-laki
a) Wanita yang telah menikah
b) Wanita yang masih dibawah pengawasan atau asuhan keluarga

c) Wanita yang menurut kebiasaan (adat istiadat) dilarang, yaitu :
(1) Mereka dilarang karena tradisi keluarga, masih dalam satu garis keturunan yang dekat
(2) Mereka dilarang karena tradisi (peraturan) agama. Dalam tradisi Theravada disebutkan : Upasika Atthasila, Bhikkhuni di zaman dulu
(3) Mereka dilarang karena hukum negara pada zaman dulu, misalnya selir raja

2) Objek yang menyebabkan pelanggaran Sila Ketiga oleh wanita
a) Laki-laki yang telah menikah
b) Laki-laki yang berada di bawah peraturan agama, misalnya Bhikkhu, samanera
c) Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Ketiga yang harus juga kita hindari
(1) Berzinah (melakukan hubungan kelamin bukan dengan suami/isterinya)
(2) Berciuman dengan lain jenis yang disertai nafsu birahi
(3) Menyenggol, mencolek, dan sejenisnya yang disertai dengan nafsu birahi

d) Akibat dari melanggar Sila Ketiga
(1) Mempunyai banyak musuh
(2) Dibenci banyak orang
(3) Sering diancam dan dicelakai
(4) Terlahir sebagai banci/waria atau wanita jalang
 (5) Mempunyai kelainan jiwa
(6) Diperkosa orang lain
(7) Sering mendapat aib/malu
(8) Tidur mapun bangun dalam keadaan gelisah
(9) Tidak disenangi oleh laki-laki maupun perempuan
(10) Gagal dalam bercinta
(11) Sukar mendapat jodoh
(12) Tidak memperoleh kebahagiaan dalam hidup berumah tangga
(13) Terpisah dari orang yang dicintai



4. Sila Keempat: menahan diri dari berkata yang tidak benar
a. Ada empat faktor untuk dapat disebut berdusta
1) Ada sesuatu hal yang tidak benar
2) Mempunyai pikiran untuk berdusta
3) Berusaha berdusta
4) Pihak lain mempercayainya

b. Usaha dari pelanggaran Sila keempat
1) Kebohongan langsung
(a) Bohong terang-terangan
(b) Menghasut
(c) Menipu/memperdayai
(d) Menjilat
(e) Pembatalan
(1) Pelanggaran sumpah/ikrar
(2) Muslihat/tipu daya
(3) Munafik, perbuatan pura-pura
(4) Permainan kata-kata secara licin melebih-lebihkan
(5) Menyembunyikan/mengurangi

2) Kebohongan tak langsung
(a) Kata-kata melukai
(b) Sarkasme (pujian tajam)
(c) Penghinaan (merendahkan)
(d) Kebohongan tak terpikir
(e) Sindiran untuk menimbulkan perselisihan

3) Melanggar janji
(a) Perjanjian antara dua pihak
(b) Perjanjian satu pihak
(c) Pembatalan kata-kata

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Keempat yang harus juga kita hindari
1) Basa-basi (Euphemisme)
2) Cerita (perumpamaan atau kiasan)
3) Salah pengertian
4) Salah ucapan

d. Akibat dari melanggar Sila Keempat
1) Bicaranya tidak jelas
2) Giginya jelek dan tidak rata/rapi
3) Mulutnya berbau busuk
4) Perawakannya tidak normal, terlalu gemuk atau kurus, terlalu tinggi atau pendek
5) Sorot matanya tidak wajar
6) Perkataannya tidak dipercayai walaupun oleh orang-orang terdekat atau bawahannya


5. Sila Kelima: menahan diri dari memakan makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan

a. Ada empat faktor untuk dapat disebut mabuk-mabukan
1) Ada sesuatu yang merupakan Sura, Meraya, atau Majja; yaitu sesuatu yang membuat nekat, mabuk, tak sadarkan diri, yang menjadi dasar dari kelengahan dan kecerobohan
2) Mempunyai keinginan untuk menggunakannya
3) Menggunakannya
4) timbul gejala mabuk atau sudah menggunakannya (meminumnya) hingga masuk melalui
tenggorokan

b. Objek yang menyebabkan pelanggaran Sila Kelima
1) Segala jenis minuman/makanan yang memabukkan
2) Barang yang bila digunakan/dimasukkan didalam tubuh dapat membuat kita tidak sadar dan ketagihan

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Kelima yang harus juga kita hindari Makan/minum sampai terlalu kenyang (kekenyangan) sehingga dapat mengakibatkan muntah-muntah

d. Keburukan-keburukan dari makanan/minuman yang memabukkan
1) Pemborosan uang karena keinginan yang tak terkendali
2) Menjadi sebab timbulnya pertengkaran dan perkelahian
3) Menjadi sebab timbulnya penyakit, bukan sebagai penawar
4) Sebab utama dari timbulnya noda nama baik keluarga
5) Hilangnya pengendalian diri
6) Menimbulkan gangguan pada fungsi otak

Apa akibat dari melanggar Sila Kelima (melakukan pemabukan)

1) Dalam Anguttara Nikaya, Sutta Pitaka, Buddha Gotama menekankan betapa besar akibat negatif yang ditimbulkan dari pemabukan:”Duhai para Bhikkhu, peminum minuman keras secara berlebihan dan terus-menerus niscaya dapat menyeret seseorang dalam alam neraka, alam binatang, alam iblis. Akibat paling ringan yang ditanggung oleh mereka-yang karena kebajikan lain, terlahir sebagai manusia gila/sinting”.
2) Dalam bagian lain beliau juga mengatakan:”ada tiga macam hal, duhai para bhikkhu, yang apabila dilakukan tidak pernah dapat membuat kenyang. Apakah tiga hal itu? Tiga hal itu ialah bertiduran, bermabuk-mabukan, dan bersetubuhan”.
3) Terlahir kembali sebagai orang gila; tingkah kesadaran/kewaspadaannya rendah; tidak memiliki kecerdasan; tidak mempunyai banyak pengetahuan; bersifat ceroboh; pikun; pemalas; sulit mencari pekerjaan; sukar memperoleh kepercayaan orang lain




Ayo mengomunikasikan!

1. Bagaimana pendapatmu tentang orang-orang yang pekerjaannya sebagai penjagal hewan atau nelayan yang hampir tiap hari melakukan membunuh hewan?
2. Ungkapkan pendapatmu dan komunikasikan hasil analisis kalian!
3. Temukan kasus-kasus pelanggaran sila yang ada di masyarakat, dan cobalah komunikasikan
dengan teman-temanmu melalui diskusi, pembahasan mencari sebab-musababnya dan
menemukan solusinya!
7.   Buatlat kliping berita-berita pelanggaran sila, dan cobalah diskusikan dengan teman-temanmu!


Ayo Nyatakan Tekadmu!
Setiap hari aku bertekad akan melatih diri untuk:
tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila,
tidak berkata tidak benar, dan tidak mengonsumsi narkoba!


Uji Kompetensi

1. Jelaskan manfaat mempelajari Pancasila Buddhis!
2. Uraikan akibat melanggar sila kelima Pancasila Buddhis!
3. Tuliskan jenis pelanggaran sila yang pernah Kamu lakukan!
4. Mengapa ada orang bodoh bahkan ediot? Jelaskan hubungannya dengan Pancasila Buddhis!
8.   Terangkan fungsi sila!

Tugas individu
1.   Lakukan pengamatan terhadap temanmu atau orang-orang di sekitarmu yang telah
melakukan pelanggaran sila-sila dalam Pancasila Buddhis!
2.   Berikan tanggapan dari hasil pengamatanmu lalu buatlah laporan kepada gurumu!

Ayo Renungkan

Pikirkanlah terlebih dahulu dengan saksama sebelum bertindak, dan renungkanlah dalam-dalam
segala tindakan yang telah terjadi!
Adakah kamu pernah atau sering melakukan pelanggaran sila-sila dalam pancasila?
Sila-sila mana saja? Dan bagaimanakah upaya kamu untuk dapat mengatasinya!



PANCADHARMA

Jika Pancasila bersifat bersifat pasif maka pancadharma bersifat aktif. Sifat aktif inilah yang membuat pancadharma disebut kalyanadharma yaitu memuliakan seseorang yang mempraktekkannya.

1. Metta – Karuna adalah cinta kasih dan belas kasihan terhadap semua makhluk. Kalau seseorang dapat melaksanakan metta – karuna dengan baik, maka ia akan dapat menghindari pembunuhan makhluk hidup, sehingga sila pertama dalam Pancasila Buddhis akan dapat dilaksanakan dengan baik.

2. Samma-Ajiva adalah mata pencaharian benar, maksudnya adalah mencari penghidupan dengan cara yang baik, yaitu :
- tidak mengakibatkan pembunuhan
Ø
- wajar dan halal (bukan hasil pencurian, mencopet dan merampok)
Ø
- tidak berdasarkan penipuan
Ø
- tidak berdasarkan ilmu yang rendah seperti meramal, perdukunan, dll
Ø
- Jika kita dapat melaksanakan dhamma kedua ini dengan baik, maka kita akan dapat melaksanakan sila ke II dalam Pancasila Buddhis.

3. Santutthi artinya puas dengan apa yang dimiliki. Puas disini adalah puas dalam hal hawa nafsu. (Contoh : jika sudah punya istri harus puas dengan istri tersebut dan tidak melakukan perjinahan dengan orang lain (sadarasantutthi), jika sudah punya suami harus puas dengan suami tersebut dan tidak melakukan perjinahan dengan orang lain (pativatti). Jika kita dapat melaksanakan hal tersebut maka kita dapat melaksanakan sila ke III dalam Pancasila Buddhis.

4. Sacca artinya kebenaran atau kejujuran. Jujur disini berhubungan dengan pembicaraan seseorang terhadap orang lain yang disertai kehendak/niat. Jika kita dapat melaksanakan sacca berarti kita melaksanakan sila ke IV dari pancasila Buddhis

5. Sati-Sampajanna artinya ingat dan waspada
Jika kita selalu ingat pada jenis-jenis makan dan minuman yang dapat menimbulkan lenyapnya kesadaran serta tidak akan terjerat oleh semua hal sejenisnya, kewaspadaan dapat di bagi menjadi empat yaitu: kewaspadaan terhadap makanan, pekerjaan, tingkah laku, hakekak hidup dan kehidupan. Dengan memiliki sati-sapajanna maka kita akan dapat melaksanakan Sila ke V dari Pancasila Buddhis.








BRAHMA VIHARA

Brahma vihara adalah sifat batin yang luhur atau mulia atau tempat berdiamnya makhluk Brahma (makhluk dewa yang telah mencapai kesucian batin). Sifat ini terdapat dalam diri manusia baik yang jahat maupun yang baik. Manusia menurut pandangan Buddhis terdapat 7 sifat terdiri dari :

• 2 sifat baik (keyakinan dan kebijaksanaan)
• 4 sifat tidak baik ( serakah, kenafsuan, kebencian, mudah tersinggung)
• 1 sifat campuran dari 6 sifat diatas.

Perbuatan Baik Perbuatan Buruk
1. Metta : Cinta Kasih 1. Lobha : Keserakahan
2. Karuna : Belas kasihan 2. Dosa : Kebencian/Kemarahan
3. Mudita : Perasaan Simpati 3. Moha : Kebodohan
4. Upekkha : Keseimbangan Batin 4. Irsia : Irihati

Moha tidak sama dengan Avijja (kegelapan batin). Moha adalah orang yang malas melakukan segala sesuatu, sedangkan Avijja adalah orang yang sudah mengerti berpura-pura tidak mengerti. Lobha dapat dihilangkan dengan mengembangkan Karuna, Dosa dapat dihilangkan dengan mengembangkan Metta, Moha dapat dihilangkan dengan mengembangkan Panna (Kebijaksanaan), Irsia dapat dihilangkan dengan mengembangkan Mudita. Bila manusia memiliki sifat terikat pada apa yang disenangi, dan sifat menolak pada apa yang tidak disenangi dapat dihilangkan dengan mengembangkan Upekkha.

Sifat luhur ini hendaknya dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat menjadi manusia yang mulia baik dalam tingkah laku, pikiran dan ucapan. Keempat sifat luhur(baik) tersebut merupakan keadaan tanpa batas (appamana). Disebut demikian karena tidak ada yang merintangi atau yang membatasi semua makhluk termasuk dalam alam menyedihkan untuk mengembangkan sifat luhur tersebut.

A. METTA (CINTA KASIH)
Sifat luhur yang pertama adalah Metta (cinta kasih) yang universal (menyeluruh terhadap semua makhluk. Metta bukan berarti cinta kasih yang dilandasi oleh nafsu atau kecenderungan pribadi, karena kedua hal ini akan menimbulkan kesedihan. Metta dapat diumpamakan sebagai: “ seorang ibu yang melindungi anaknya yang tunggal, sekalipun mengorbankan kehidupannya, seharusnya seseorang yang memelihara cinta kasih yang tidak terbatas itu kepada semua makhluk “. Nasihat sang Buddha tersebut adalah perasaan cinta kasih yang tidak didasarkan pada nafsu seorang ibu terhadap anaknya, melainkan keinginan yang murni untuk membahagiakan anaknya.



Sifat yang baik dan mulia adalah corak yang khas dari metta. Orang yang melatih metta selalu gembira dalam memajukan kesejahteraan orang lain. Pahala melaksanakan metta, al:
1. Orang yang penuh metta akan tidur dengan tenang dan bahagia.
2. Wajah berseri-seri.
3. Tidur dengan nyenyak
4. Dicintai banyak orang
5. Disayang oleh makhluk lain (termasuk binatang)
6. Kebal terhadap ilmu hitam (kecuali karma buruknya sedang berbuah)
7. Akan dilindungi oleh para dewa
8. Dengan mudah memusatkan pikirannya
9. Meninggal dengan tenang
10. Dengan pancaran cinta kasih bila meninggal wajahnya berseri-seri.

Cara melatih metta adalah :
Pertama kali metta harus dilatih terhadap dirinya sendiri. Ketika melatih metta pikiran harus tenang, positif, bahagia. Setelah itu ia harus merenungkan agar hidup tenang, terbebas dari penderitaan, kesakitan, kegelisahan, ketakutan, dan seterusnya dengan pikiran tidak melekat dengan apa yang kita pikirkan. Hal ini harus dilatih sesering mungkin agar mendapatkan hasil yang maksimal. Sang Buddha bersabda : “ Ditengah-tengah orang yang membenci, hendaklah seseorang hidup bebas dari kebencian”. Sasaran utama mengembangkan metta adalah terhadap semua makhluk.


B. KARUNA (BELAS KASIHAN)

Sifat luhur yang kedua adalah Karuna (belas kasihan), yang dirumuskan sebagai sesuatu yang dapat menggetarkan hati ke arah rasa kasihan bila mengetahui orang lain sedang menderita, atau kehendak untuk meringankan penderitaan orang lain. Dalam Jataka diceritakan, Dimana Sutasoma sebagai seorang Bodhisatva telah mengorbankan dirinya demi menolong seekor macan betina kelaparan yang ingin memakan anak-anaknya sendiri yang masih kecil-kecil guna menghilangkan laparnya. Bodhisatva Sutasoma mencegah niat macan itu, dan sebagai gantinya ia memberikan tubuhnya sendiri untuk dimakan.

Sesungguhnya, unsur kasih sayang-lah yang mendorong seseorang menolong orang lain dengan ketulusan hati. Orang yang memiliki kasih sayang yang murni tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk semua makhluk. Orang-orang yang pantas kita beri belas kasihan tidak hanya orang miskin saja tetapi juga orang yang kejam, pendendam, serakah, irihati, pemarah, serakah, mau menang sendiri, sakit, senang dan lain-lain. Sasaran utama mengembangkan karuna adalah terhadap makhluk yang sengsara dan menderita.


C. MUDITA (PERASAAN SIMPATI)

Sifat luhur yang ketiga adalah Mudita (perasaan simpati), yaitu ikut senang melihat orang lain senang atau perasaan gembira atas keberhasilan orang lain. Namun tidak bisa kita pungkiri bahwa sifat manusia yang menonjol adalah sifat irihati, karena untuk memberi ucapan selamat kepada orang yang berhasil tersebut kita tidak pernah melakukannya, jika ada jumlahnya sangat sedikit sekali. Salah satu cara untuk menghilangkan perasaan irihati ini adalah mengembangkan mudita, karena mudita dapat mencabut akar irihati yang merusak. Mudita juga dapat menolong orang lain mencapai kebahagiaan. Sasaran utama mengembangkan mudita adalah terhadap semua makhluk yang makmur dan sejahtera.


D. UPEKKHA (KESEIMBANGAN BATIN)

Sifat luhur yang keempt adalah Upekkha (keseimbangan batin). Keseimbangan batin penting sekali terutama bagi umat awam yang hidup dalam dunia yang kacau balau, ditengah gelombang keadaan yang naik turun tidak menentu ini. Sang Buddha bersabda : “ Orang bijaksana tidak menunjukkan rasa gembira maupun kecewa dengan pujian dan celaan. Mereka tetap teguh bagaikan batu karang yang tak tergoyahkan oleh badai”. Demikianlah mereka melatih keseimbangan batin.
Contoh Cerita : Pada suatu ketika Sang Buddha diundang oleh seorang Brahmana untuk bersantap dirumahnya, oleh karena diundang, maka Sang Buddha datang ke rumah Brahmana tersebut, tetapi ia bukannya menjamu Sang Buddha, melainkan malah mencerca Sang Buddha dengan kata-kata yang sangat kotor. Sang Buddha dikatakan seperti babi jalang, anjing, buaya, bangsat, dan sebagainya. Tetapi Sang Buddha tidak sedikitpun merasa terkejut, marah, membantah, dan sang Buddha sama sekali tidak dendam.

D. SIGALOVADA SUTTA
1. Sigalovada Sutta adalah khotbah yang berisi wejangan/nasehat Sang Buddha kepada seorang pemuda bernama Sigala, putra seorang kepala keluarga yang tinggal di Rajagaha.

2. Orang tuanya adalah penganut agama Buddha yang taat dan berbakti kepada Sang Buddha, tetapi tidak berhasil mengajak putranya mengikuti jejaknya.

3. Berbagai usaha telah dilakukan agar Sigala mau bertemu dengan Sang Buddha tau siswa-siswanya untuk mendengarkan dhamma.

4. Sigala beranggapan bahwa tidak ada gunanya mengunjungi Sang Buddha dan sangha(perkumpulan para bhikkhu dan bhikkhuni), karena hal tersebut tidak mendatangkan keuntungan materi, bahkan akan mengakibatkan kerugian materi.

5. Pikiran Sigala hanya tertuju pada kesejahteraan materi dan beranggapan kegiatan mental spiritual tidak ada gunanya.

6. Ketika ayahnya akan meninggal dunia, Ia berpesan agar Sigala melaksanakan permintaannya untuk menghormat enam penjuru pada waktu pagi-pagi sekali(subuh).

7. Ayahnya meminta Sigala melakukan hal tersebut dengan harapan agar suatu ketika Sang Buddha atau para siswanya melihat dan berkesempatan untuk memberikan dhamma yang sesuai dengan Sigala.

8. Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di hutan bambu dekat Rajagaha, dan melihat Sigala dengan pakaian dan rambut yang basah melaksanakan pesan ayahnya untuk memuja enam arah, meskipun tidak tau apa artinya dan ia melakukan sebagai rasa bakti dan penghormatan terhadap ayahnya.

9. Sang Buddha memberitahu Sigala bahwa dalam ajaran-Nya tentang Ariyasa Vinaya(peraturan ariya), enam penjuru itu mempunyai arti :
a. Arah Timur berarti menghormati orang tua
b. Arah Selatan berarti menghormati guru
c. Arah Barat berarti menghormati anak dan istri
d. Arah Utara berarti menghormati sahabat
e. Arah Atas(Zenith) berarti menghormati rohaniawan
f. Arah Bawah(Nadir) berarti menghormati pelayan/karyawan

Ke-enam kelompok ini dalam agama Buddha diperlakukan sebagai sesuatu yang pantas dihormati dan dijaga.
10. Bagaimana cara menghormat atau menjaga mereka? Sang Buddha bersabda bahwa kita dapat menghormat mereka dengan cara melaksanakan kewajibannya dengan baik dan benar. Terdapat 14 aspek negative yang harus dihindari oleh kita antara lain :
a. Empat cacat tingkah laku, antara lain : melakukan pembunuhan, melakukan pencurian, berhubungan kelamin(berzinah), berkata yang tidak benar.
b. Empat dorongan melakukan kejahatan, antara lain : nafsu keinginan, kebencian, ketakutan, kebodohan.
c. Enam saluran menghabiskan kekayaan, antara lain : minuman keras, judi, keluyuran tidak pada waktunya, bergaul dengan wanita/pria penghibur, memiliki teman yang jahat, malas.

11. Aspek positif yang harus kita kembangkan adalah melaksanakan kewajiban timbal balik kepada mereka, antara lain :
a. Kewajiban anak terhadap orang tua, yaitu:
 Mendengarkan nasehatnya
Ø
 Membantu orang tua dalam keadaan senang dan susah
Ø
 Menjaga nama baik orang tua
Ø
 Menghormati dan menjaga nama baiknya.
Ø

b. Kewajiban orang tua terhadap anak, yaitu :
 Memberikan pendidikan yang baik
Ø
 Memberikan warisan kepada anaknya pada saat yang tepat
Ø
 Menganjurkan anaknya berbuat kebaikan
Ø
 Mencegah anaknya melakukan perbuatan yang tidak baik
Ø

c. Kewajiban guru terhadap murid, yaitu :
 Menjaga nama baik muridnya
Ø
 Memberikan nasehat, petunjuk yang baik
Ø
 Memberikan ilmu yang telah dimiliki
Ø
 Menjaga muridnya dari bahaya
Ø

d. Kewajiban murid terhadap guru, yaitu :
 Menegur atau memberi salam bila bertemu
Ø
 Bertekad untuk belajar yang sungguh-sungguh
Ø
 Mengerjakan tugas yang telah diberikan
Ø
 Memperhatikan dengan baik ketika belajar
Ø


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya butuh 1 menit untuk membaca

kita tinggal di ?
kita hidup di ?
kita bisa makan karena ada ?
kita bisa minum karena ada ?
jawabannya adalah bumi ☺

Bumi yg indah ini penuh dengan berbagai pemandangan alam yg indah tetapi keindahannya tdk akan kita lihat lagi, jika keindahan itu kita rusak dan tidak kita jaga.

sama juga dengan berbagai hasil bumi dan sumber daya alam yg ada, jika tdk kita jaga dan hargai semuanya tentu juga akan hilang dan tdk akan bisa kita nikmati lagi.

oleh sebab itu kita harus saling mengingatkan supaya pikiran, ucapan dan perbuatan kita selalu terjaga dengan baik. kalau pikiran, ucapan dan perbuatan terjaga dengan baik tentu kebijaksanaan akan berkembang. Dengan begitu kebijaksanaan hati untuk menjaga bumi, merawat bumi tentu menjadi ada.

mari kita jaga bumi ini
dengan begitu kehidupan kita tetap bertahan ☺

☺ terima kasih sudah baca , like, berkomentar dan share

Pancadhamma

lima kewajiban kita

1. Menyayangi semua bentuk kehidupan ( Metta-karuna )
2. Suka berdana atau bersedekah
3. Berpuas hati
4. Berbicara Jujur
5. Menjaga penyadaran dengan tidak mencoba narkoba dan miras